Fenomena Wereng Jagung, Bukti Pentingnya Menjaga Keseimbangan Lingkungan

Kota Bima, Selasa 21 April 2026 - Menanggapi fenomena munculnya hama wereng jagung dengan nama ilmiah Dalbulus maidis yang saat ini terpantau masuk ke permukiman warga di Kota Bima, perlu disampaikan bahwa kejadian ini merupakan fenomena ekologis yang bersifat musiman dan berkaitan erat dengan siklus pertanian serta kondisi lingkungan.

 

Berdasarkan penjelasan Dinas Pertanian Kota Bima, kemunculan wereng dalam jumlah besar dipicu oleh kondisi tanaman jagung yang telah memasuki fase generatif. Pada fase ini, ketersediaan sumber makanan bagi wereng berkurang, sehingga menyebabkan hama tersebut bermigrasi ke area lain, termasuk permukiman warga.

 

Selain itu, faktor lingkungan turut mempengaruhi pergerakan wereng. Pada malam hari, wereng cenderung tertarik pada sumber cahaya seperti lampu rumah dan lampu jalan, sehingga banyak ditemukan menyerbu area yang terang. Sementara pada siang hari, wereng bersembunyi di tempat yang teduh, lembap, dan terlindung dari paparan sinar matahari langsung, seperti semak-semak, celah bangunan, dan area yang minim aktivitas.

 

Dari aspek lingkungan, fenomena ini juga mengindikasikan adanya ketidakseimbangan ekosistem, antara lain berkurangnya populasi predator alami seperti laba-laba, kepik dan serangga lainnya. Namun ketika populasi predator ini menurun, maka pengendalian alami menjadi terganggu. Kemudian aspek lain yaitu pola tanam jagung yang tidak serempak, kondisi iklim seperti suhu dan kelembaban udara juga berperan dalam mendukung perkembangan populasi wereng.

 

Meskipun tidak berbahaya secara langsung bagi manusia, keberadaan wereng dalam jumlah besar dapat menimbulkan dampak berupa gangguan kenyamanan, penurunan kualitas lingkungan permukiman, serta potensi gangguan pada sektor pertanian karena wereng merupakan vektor penyakit tanaman jagung.

 

Berbagai langkah pencegahan telah dilakukan oleh masyarakat Kota Bima, antara lain mematikan atau mengurangi penggunaan lampu pada malam hari, memasang jaring (insect net) pada ventilasi rumah, memasang perangkap serangga, menggunakan plastik yang dilapisi minyak di sekitar sumber cahaya, hingga melakukan penyemprotan insektisida secara terbatas.

 

Dalam menyikapi kondisi tersebut, perlu dipahami bahwa penggunaan insektisida di lingkungan permukiman bukanlah langkah yang dapat dilakukan secara sembarangan. Penyemprotan insektisida memiliki risiko terhadap kesehatan manusia dan kualitas lingkungan, terutama karena potensi penyebaran partikel semprot (droplet) yang dapat terbawa angin, terhirup oleh warga, serta menempel pada pakaian, perabot rumah tangga, dan sumber makanan. Oleh karena itu, penyemprotan insektisida di permukiman pada dasarnya tidak dianjurkan, terutama jika dilakukan secara luas tanpa pengendalian. Faktor arah dan kecepatan angin sangat mempengaruhi sebaran insektisida, sehingga berpotensi menyebabkan paparan tidak langsung kepada masyarakat, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

 

Dalam perspektif pengendalian dampak lingkungan, langkah-langkah tersebut perlu diimbangi dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan, seperti penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pengendalian secara mekanis, serta pengurangan penggunaan pestisida kimia secara berlebihan guna menjaga keseimbangan ekosistem.

 

Sebagai upaya preventif terhadap dampak kesehatan dan keselamatan, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker dan helm berkaca saat berkendara pada malam hari guna menghindari gangguan visibilitas dan keselamatan lalu lintas. Hal sederhana yang bisa dilakukan lainnya yaitu menyemprotkan campuran air dengan bawang putih atau air sirsak di area sekitar jendela, pintu, dan lampu luar untuk mengusir wereng karena baunya yang menyengat.

 

Selain itu, masyarakat juga diharapkan untuk rutin membersihkan wereng yang mati di sekitar rumah dan menempel pada dinding dengan disapu dan buang/bakar. Hal ini untuk mengurangi bau dan mencegah datangnya serangga lain seperti semut. Selain itu dapat membersihkan rumput liar atau semak belukar di sekitar rumah yang bisa menjadi tempat persembunyian wereng.

 

Fenomena ini diharapkan dapat segera mereda seiring berjalannya waktu dan perubahan kondisi lingkungan, dengan tetap mengedepankan upaya pengendalian yang bijak, efektif, dan berkelanjutan.